Tirta Nugraha Pratama, selaku penggagas kegiatan ini berharap ini adalah langkah untuk melestarikan dan menghidupkan kembali kekayaan budaya pewayangan dari Naskah Babad Banten serta dapat mejadi langkah konkret dalam rangka pemajuan kebudayaan.
“konteks yang digali adalah tentang Babad Banten, dan itu akan membuat dunia pewayangan ada warna lain di wilayah cerita dan lakonnya. Kemudian untuk penjaringan masyarakat Pandeglang yang berminat dalam bidang pedalangan, selanjutnya ini adalah langkah awal untuk menciptakan suatu konsep bentuk seni wayang yang baru untuk kedepannya,” Ungkap Tirta Nugraha Pratama yang juga menjabat Ketua Pandeglang Creative Hub.
Kasubag Umum Balai Pelestarian Kebudayaan wilayah VIII, Juliadi, S.S,. M.Sc. menuturkan bahwa kegatan ini merupakan bagian dari Fasilitasi pemajuan kebudayaan untuk masyarakat yang beraktivitas dalam bidang kebudayaan.
“Workshop ini sangat menarik, dan hari ini terbukti meskipun dibatasi dengan kapasitas yang terbatas, tema yang di angkat pun adalah mengangkat mengenai cerita Babad Banten yang diceritakan kembali dalam konsep pewayangan. Tentu harapannya tidak berhenti setelah workshop pedalangan ini, karena ini hanya sebagai gerakan awal dalam seni pedalangan. Pemerintah hanya fasilitator dan budaya nya ada pada masyarakat. Semoga 15 peserta ini bisa sebagai pemancing untuk seni pedalangan di Pandeglang dan Banten khususnya,” harapnya.
Sejalan dengan pemikiran Kasubag Umum BPK VIII, salah satu narasumber yang juga memberikan opini yang positif terkait penyelenggaraan workshop ini.
“saya sangat mengapresiasi khususnya kepada panitia karena telah mengadakan workshop ini untuk mengangkat kembali/meregenerasi dunia pedalangan di Banten. Karena hampir dalam beberapa pertunjukan kebudayaan, pertunjukan pedalangan ini hampir tersisihkan”, ungkap Yadi Ahyadi
Selain itu, workshop ini juga sangat menantang bagi narasumber karena memerlukan beberapa analisis tingkatan materi untuk mencapai keberhasilan workshop.
“Karena peserta dalam workshop ini sangat muda muda, maka saya harus memberikan pemahaman kepada para peserta dengan baik, supaya mereka punya rasa memiliki pada pertunjukan-pertunjukan nya. Karena mereka lah yang akan memasarkan cerita, bagaimana mengangkat media pedalangan sebagai alur cerita lokal untuk membangkitkan emosi jiwa Kebantenan,” Tambah Yadi Ahyadi.
Den gala menuturkan, Berdasarkan tema pada workshop pedalangan ini, ada harapan dari pihak penyelenggara yang sama dengan harapan saya yaitu menjadi langkah awal alih wahana dari manuskrip babad Banten menuju ke teks pedalangan.
“Semoga para peserta bisa melakukan alih wahana ini dengan pembahasan yang telah diberikan tentang kiat-kiat/ cara-cara agar teks manuskrip ini menjadi teks pedalangan. Karena memang di teks pedalangan mempunyai kaidah khusus. Dan mungkin lebih jauh nya bisa menjadi naskah-naskah teater atau mungkin pertunjukan lainnya,” ungkapnya.
Dengan diselenggarakannya workshop bidang pedalangan ini tentu menjadi sebuah gagasan baru di Pandeglang karena selama ini pelatihan-pelatihan ataupun workshop terkait seni pedalangan. Hal ini yang menjadi poin ketertarikan peserta untuk mendaftar. Ketua PEPADI Provinsi Banten pun turut serta menjadi peserta karena hal ini menjadi hal yang dinantikan olehnya.
“Saya sangat berterima kasih telah di adakannya workshop ini, terutama pada panitia. Kita perlu membangun dunia pedalangan lebih muncul lagi sehingga ini merupakan suatu wadah yg baik untuk regenerasi berikutnya. Saya sangat mengapresiasi bahwa di balai budaya Pandeglang diadakan workshop pedalangan, dengan menggaris bawahi sejarah Banten. Mudah mudahan ini jadi awal kemajuan budaya lokal kita untuk bisa lebih berkiprah bukan hanya di Banten, tapi bila perlu sampai nasional hingga internasional,” Ungkap H. Edi Yusuf selaku ketua PEPADI Provinsi Banten.
(pch/cindy)





