Home Hiburan Kisah Syekh Abdul Qodir Al-Jailani Bersama Syekh Yusuf Al Hamdani

Kisah Syekh Abdul Qodir Al-Jailani Bersama Syekh Yusuf Al Hamdani

2
0

Nusanews.co – Ketika belajar di Baghdad, Syekh Abdul Qadir Jailani dan teman-temannya sering mengunjungi orang-orang saleh. Pada suatu hari ia bersama dua orang temannya mengunjungi seorang Wali Ghauts yang dapat muncul sewaktu-waktu, yaitu Syekh Abu Ya’qub Yusuf Al-Hamdani.

 

Sebelum mereka tiba ditempat tujuan, temannya yang bernama Ibnu Saqa’ berkata,”Aku akan mengajukan pertanyaan yang tidak akan diketahui jawabannya.”

 

Sementara satu temannya lagi yang bernama Abdullah bin Abi Asrun berkata,”Aku akan mengajukan pertannyaan yang akan kulihat bagaimanakah jawabannya.”

 

Adapun Syekh Abdul Qadir hanya berkata,”Aku berlindung kepada Allah dari pengajukan pertanyaan kepada beliau. Yang aku harapkan adalah berkat beliau.”

 

Sewaktu mereka tiba dirumah yang dituju, Syekh Abu Ya’qub tidak ada. Namun beberapa saat kemudian, tahu-tahu beliau sudah ada dihadapan mereka. Syekh Abu Yaqub memandang Ibnu Saqa’ dengan tajam seraya berkata,”Hai Ibnu Saqa’ apakah engkau akan menanyakan sesuatu yang tidak akan kuketahui jawabannya? Sungguh celaka engkau! Sungguh kulihat dimulutmu tersembul tanda kekafiran.”

 

Setelah itu beliau menyebut pertanyaan yang akan diajukan Ibnu Saqa’ dan sekaligus menjawabnya. Padahal Ibnu Saqa’ belum sempat berkata sepatahpun.

 

Kemudian Syekh berkata kepada Abdullah, “Hai Abdullah, apakah engkau akan menanyakan persoalan untuk kamu lihat jawabannya? Ketahuilah, kamu kelak akan diuji dengan banyaknya kekayaan yang datang kepadamu, akibat sikapmu yang tidak sopan kepadaku.” Seperti tadi, beliau menyebutkan pertanyaan yang ada dihati tamunya sekaligus menjawabnya.

 

Selanjutnya beliau menoleh kepada Syekh Abdul Qadir yamg waktu itu masih muda, dan menyuruh agar duduk didekatnya. Syekh Abu Ya’qub lalu berkata, “Hai Abdul Qadir, Allah dan RasulNya sangat senang dengan kesopananmu. aku seolah-olah melihat, kelak dikota Baghdad, engkau akan duduk memberikan pelajaran agama dihadapan para santri yang berdatangan dari segala penjuru. Akupun seolah-olah melihat, setiap wali yang ada pada masamu, semuanya tunduk melihat keagunganmu.

 

Ketahuilah sebenarnya kedua telapak kakiku ini berada diatas tengkuk setiap wali Allah.” Setelah berkata demikian, tiba-tiba sang Wali Quthub lenyap dari pandangan mata para tamunya, tanpa diketahui kemana perginya.

 

Beberapa tahun pun berlalu. Masing-masing sibuk dengan aktivitasnya.

Ibnu as-Saqa sibuk belajar sehingga ia menjadi cendekiawan hebat dan terkenal sebagai ahli debat. Tidak terhitung sudah berapa orang yang telah ia kalahkan dalam berdebat.

 

Selain sebagai ahli debat, Ibnu as-Saqa juga seorang qurra’ (ahli baca al-Qur’an) yang hafal al-Qur’an. Namun sayangnya, pada kemudian hari, Ibnu as-Saqa justru berpindah agama menjadi Nasrani hingga ia meninggal dunia. Na’udzubillah min dzalik, Ibnu as-Saqa meninggal dalam keadaan su’ul khatimah.

 

Peristiwa kemurtadan Ibnu as-Saqa ini bermula ketika ia bepergian ke Romawi sebagai utusan Khalifah. Setiba di Romawi, ternyata ia terpikat oleh keelokan putri raja Romawi. Akhirnya, ia mengutarakan keinginannya untuk mempersunting putri tersebut. Namun, sang putri tidak mau menikah dengannya, kecuali jika Ibnu as-Saqa mau memeluk agama Nasrani.

Singkat cerita, Ibnu as-Saqa pun memeluk agama Nasrani.

Mendekati akhir hayatnya, Ibnu as-Saqa menderita sakit cukup parah. Tangannya memegang kipas untuk menghalau lalat di wajahnya. Saat ditanya tentang hafalan al-Qur’an, ia menjawab bahwa dirinya telah lupa, kecuali satu ayat yang masih teringat dalam kepalanya, yaitu:

 

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ

 

“Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.” (Q.S. al-Hijr: 2)

 

Sedang Ibnu Abi ‘Ushrun berhijrah ke Dimasyqa (Damaskus). Di sana ia ditugaskan oleh Sultan as-Shalih Nuruddin asy-Syahid untuk mengurusi wakaf dan sedekah. Sayangnya, kilauan dunia selalu datang menggodanya sehingga ia jatuh dalam pelukan gemerlap duniawi. “Sungguh benar apa yang dikatakan oleh Syaikh Yusuf tentangku,” batin pilu Ibnu Abi ‘Ushrun.

 

Adapun Syaikh Abdul Qadir, kedudukannya terus menjulang tinggi di sisi Allah, juga di sisi manusia, sehingga sampai suatu hari ia pun berkata, “Sungguh benar apa yang dikatakan oleh Syaikh Yusuf, Kedua kakiku berada di atas pundak/leher setiap wali.”

 

Semoga Allah memberkahi dan melindungi kita dari fitnah dunia dan akhirat.

 

Sumber : Pecinta Sholawat Nabi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here