Menu

Mode Gelap
 

KITAB SEZAMAN: USTADZ HANIF ALATAS & USTAZ WAFI SALAH MEMAHAMI KITAB

- Nusakata

3 Oct 2023 10:01 WIB


					KITAB SEZAMAN: USTADZ HANIF ALATAS & USTAZ WAFI SALAH MEMAHAMI KITAB Perbesar

Lalu bagaiman kitab abad 6 yang berjudul al-syajarah al-mubarokah yang mengatakan Ahmad tidak punya anak bernama Ubed? Ia juga adalah tulisan ahli nasab dan bisa dijadikan dalil. Lalu yang harus diambil yang mana? Yang kuat yang mana? Masa iya tulisan hari ini yang benar. Dan tulisan masa yang dekat dengan peristiwa itu salah. Yang sedang dibicarakan adalah orang yang hidup di abad 4 H. tentu logika umum yang standar akan menjadikan al-Syajarah al-Mubarokah sebagai yang dapat diterima karena ia kitab yang paling dekat dengan peristiwa. Kecuali ada dalil informasi al-syajarah al-Mubarokah itu salah. Dan itu tidak ada. Bahkan informasi al-Syajarah dapat dikonfirmasi dengan kitab-kitab yang lebih tua, misalnya Tahdzibul Ansab ketika berbicara mengenai anak Ahmad yang bernama Muhammad. Juga dikonfirmasi oleh kitab masa kini, misalnya karya al-Zarbati tentang anaknya Ahmad yang bernama Ali. Kitab al-Syajarah telah terbukti valid dan orisinal. Ia tidak terindikasi subjektif, karena masa Imam al-Fakhrurazi Ba Alawi belum ada, tentu tidak bisa disebut al-Fakhrurazi sengaja menghilangkan nama Ubed karena suatu permusuhan dengan Ba Alawi, karena Ba Alawi waktu itu belum ada.
Di bawah ini satu lagi pendapat ulama nasab tentang pentinnya kitab sezaman:

Syekh Muhammad Mahdi Sayyid Hasan al-Khurasani berkata:

صحيح النسب هو الذي ثبت عند النسابين بالشهادة وقوبل على المصادر النسبية فنص عليه شيوخ النسب او سائر العلماء المشهورين بالتقوى والورع والامانة فكان ثابتا بالاجماع

“Sohihun Nasab (nasab yang sahih) adalah (nasab) yang telah tetap menurut para ahli nasab dengan kesaksian dan diterima oleh referensi-referensi nasab (kitab-kitab nasab). Maka kemudian ditulis oleh para guru-guru nasab atau semua ulama yang masyhur dengan takwa, wara dan amanah. Maka (nasab itu) tetap dengan ijma” (Muqoddimah al-Muntaqilah al-Talibiyah, Muhammad Mahdi Sayyid Hasan al-Khurasani, h. 26)
Perhatikan kalimat: wa qubila alal mashadir al-nasabiyyah. Artinya nasab yang sahih tidak bisa hanya dengan secarik syahadah ahli nasab, tetapi ia juga harus diterima dalam “al-mashadir al-nasabiyah” : referensi-referensi nasab. apa yang di maksud referensi nasab? ya tentu kitab-kitab nasab. seperti syahadah yang diberikan Syekh Mahdi roja’I tentang nasab Ba Alawi, ia menyatakan nasabnya Ubaid sahih sebagai anak Ahmad. Tetapi ketika dirujuk di kitab-kitab nasab terpercaya ternyata Ahmad tidak punya anak bernama Ubed. Ya syahadah dari Syekh Mahdi ini otomatis tertolak.

Di bawah ini ucapan seorang Ba Alawi tentang kitab sezaman:

Abdullah Muhammad al-Habsyi berkata:

ومن المستبعد ان يكون تلقي اخباره عن طريق الرواية الشفهية عن الاقدم قالاقدم فهذا لا يكون الا عند رواية الحديث النبوي اما الحوادث التاريخية المعتادة فلا يعتنى بها هذة العناية التامة ويكتفي احدهم بما يجود به المؤرخون السابقون من تدوين للاحذاث في كتبهم (مقدمة البهاء في تاريخ حضرموت: 12)

“Sungguh jauh (tidak perlu) jika kabar (tentang sejarah/nasab) harus dari jalan riwayat lisan secara berantai dari pendahulu terus ke atas. Yang demikian itu tidak diperlukan kecuali dalam meriwayatkan hadits nabi. Adapaun kejadian sejarah normal maka ia tidak memerlukan sedetail itu, ia hanya dicukupkan dengan adanya sejarawan yang mencatat dalam kitab-kitab mereka.”
Al-habsyi dalam ibaroh itu mengatakan bahwa sejarah termasuk didalmnya nasab tidak harus seketat hadits. Dimana dalam hadits harus berantai satu perawi dengan perawi sebelumnya. Dan harus diteliti dalam kitab-kitab rijal, tarikh dan tobaqot keadaan setiap perawinya: apakah ia memang pernah bertemu dengan gurunya? Apakah ia bukan pendusta dsb. Ilmu nasab tidak perlu seketat itu. Ia hanya memerlukan bukti tulisan ahli sejarah sezaman atau yang mendekatinya dalam kitab-kitab mereka. Jika ditulis kitab sezaman, tidak mesti kita teliti apakah penulisnya mendapatkan informasi itu dari seorang yang terpercaya atau tidak. Cukup adanya kitab sezaman atau yang mendekatinya, maka nasab itu terpercaya. Jika suatu susunan nama nama nasab tidak tercatat di zamannya atau yang mendekatinya, lalu berdasar apa kita percaya bahwa nama yang disebut hidup di abad 4 itu memang betul-betul fakta ada di abad itu? Jangan-jangan ia hanya fiktif belaka.

Penulis : Imaduddin utsman al-Bantani

Baca Lainnya

Lesung Yang Hampir Punah Ditelan Modernisasi

19 January 2026 - 10:11 WIB

Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam STAI Babunnajah Gelar Do’a Bersama Sambut Tahun

1 January 2026 - 09:34 WIB

Bakrie Amanah Salurkan Bantuan Kemanusiaan Tahap II ke Aceh Tengah, Pidie Jaya, dan Bener Meriah

29 December 2025 - 18:51 WIB

Mahasiswa PKN STAIKHA Gelar Peringatan Isra Mi’raj Bersama 100 Anak Yatim Dan Duafa

29 December 2025 - 16:49 WIB

Gebyar Amal Untuk Aceh Dan Pentas Seni Berlangsung Meriah, Terkumpul Donasi Rp10,7 Juta

28 December 2025 - 18:25 WIB

Menguatkan Akar Budaya: Dana Indonesiana Perkokoh Forum Seniman Tradisi Banten

22 December 2025 - 11:50 WIB

Trending di Seni & Budaya