Home Nasional Sejarah Panjang Konflik Palestina – Israel Hingga Detik Ini Sejarah Perebutan Wilayah...

Sejarah Panjang Konflik Palestina – Israel Hingga Detik Ini Sejarah Perebutan Wilayah Palestina

3
0

(Penulis : Neng Susi)

Nusanewa.co – Selama lebih dari 70 tahun, konflik antara Israel dan Arab telah menyebabkan gangguan stabilitas di kawasan Timur Tengah. Memahami kompleksitas dalam konflik ini memerlukan adanya pemahaman mendalam tentang bagaimana hubungan yang saling terikat antara agama, politik, dan sejarah didalamnya. kita perlu mempelajari sejarah awal bagaimana latar belakang aktor-aktor yang terlibat dan apa faktor-faktor penting yang menyebabkan konflik ini bertahan hingga kini. Mulai dari perdebatan sejarah hingga tuntutan atas tanah yang diperebutkan adalah inti dari konflik ini. Bangsa Yahudi melihat Palestina sebagai tanah leluhur mereka dan menginginkannya kembali setelah mengalami penindasan selama berabad-abad. Di sisi lain, bagi penduduk Palestina wilayah tersebut adalah tanah leluhur mereka, di mana bangsa Arab telah tinggal selama berbagai generasi. Pembentukan negara Israel pada tahun 1948 di wilayah yang sebelumnya diakui sebagai tanah mandat Britania atas Palestina memicu perang Arab-Israel yang pertama, yang sekaligus menjadi konflik berkepanjangan selama dekade berikutnya.

 

Adapun peristiwa penting yang menjadi katalisator konflik ini bermula yaitu dari lahirnya gerakan Zionisme. Gerakan ini lahir karena hak politik, sosial, ekonomi, budaya, dan agama mereka ditindas ketika mereka hidup berdiaspora di berbagai negara. Zionisme merupakan perpanjangan dari yahudi sendiri dimana dari penindasan tersebut mereka berinisiatif dengan kesadarannya dengan pergi ke Palestina.

 

Gerakan zionisme merupakan gerakan politik hal ini berawal dari pemikiran Theodore Hertzl seorang jurnalis Yahudi Austria sekaligus bapak pendiri zionisme modern dalam pamfletnya yang berjudul “Der Judenstaat” ia mengatakan bahwa satu satunya cara bagi Yahudi untuk menghindari sentimen anti semit bukan hanya pergi meninggalkan Eropa tapi juga memiliki negara sendiri. Semua peserta setuju antara lain untuk menciptakan tanah air Yahudi di Palestina.

 

Pada kongres di Bazel, Hertzl berhasil mengumpulkan orang-orang Yahudi dari seluruh dunia, yang mana menghasilkan keputusan yang berbahaya yaitu Protokol para pemimpin Zionis (the protocols of the meetings of the elders of zion), yang membuat para pemimpin Yahudi mulai bergerak cepat, tepat, cerdas, dan misterius untuk merealisasikan tujuan-tujuan mereka yang merusak yang hasilnya bisa dilihat jelas saat ini.

 

Pada Perang Dunia I (1914-1918), Turki Utsmani bergabung dengan Poros sentral (Jerman, Austria-Hungary) melawan sekutu. Namun pada 1916, Inggris dan Prancis bersekongkol untuk membagi wilayah Timur Tengah dan terkenal dalam Perjanjian Sykes Picot. Perjanjian sykes picot adalah perjanjian rahasia yang di tanda tangani oleh Paris dan London pada 16 Mei 1916 untuk menjadi dasar pembentukan wilayah Levant selama bertahun-tahun yang akan datang (Al-Jazeera, 2016). Dalam perjanjian tersebut menyatakan bahwa sebagian besar wilayah Arab di bawah kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah akan dibagi menjadi wilayah pengaruh Inggris dan Prancis dengan berakhirnya perang dunia ke I (Onion et al., 2019).

 

Setelah perjanjian picot disusul dengan adanya deklarasi Balfour pada tahun 1917 dimana inggris mendukung zionis dalam membentuk Negara Yahudi di Palestina. Masyarakat arab Palestina diperlakukan dengan buruk atas kehadiran para zionis yahudi di Palestina dengan tujuan agar mereka keluar dari negaranya. Satu tahun setelahnya, 1918 Palestina yang sebelumnya dibawah kekeuasaan Ottoman Turki pada akhirnya dijatuh ke tangan Inggris dibawah Jenderal Edmund Allenby bersamaan dengan menyerahnya Ottoman Turki.

 

Resolusi PBB 181 (1947) Pada tanggal 29 November 1947, dikenal sebagai “Pembagian mandat Inggris atas Palestina.” Resolusi tersebut mengusulkan pembentukan dua negara di wilayah Palestina yang dikuasai Inggris: satu untuk komunitas Yahudi dan satu lagi untuk komunitas Arab. Namun, rencana pembagian ini ditolak oleh Arab Palestina dan mayoritas negara-negara Arab lainnya, yang melihatnya sebagai pelanggaran terhadap hak-hak mereka dan pemerintahan kolonialisme. Penolakan dari pihak Arab dan Palestina meningkatkan ketegangan diantara komunitas di Palestina bahkan memicu konflik bersenjata yang mengarah pada perang Kemerdekaan Israel.

 

Perang Kemerdekaan Israel (1948-1949) pecah, tepatnya pada 14 Mei 1948. Serangan berskala besar dari negara-negara Arab sekitarnya. Mesir, Yordania, Suriah, Irak, dan Lebanon mengirim pasukan mereka untuk menyerang Israel yang baru merdeka, dengan tujuan untuk mencegah pembentukan negara Yahudi tersebut. Perang Kemerdekaan Israel, atau Perang Arab-Israel Pertama, berlangsung selama hampir satu tahun dan berujung pada kemenangan Israel. Hasil dari perang ini adalah pendirian negara Israel secara de facto dan pembagian wilayah yang berbeda dari yang direncanakan dalam

 

Resolusi 181. Wilayah Palestina yang direncanakan untuk negara Arab menjadi wilayah yang dikuasai oleh Yordania dan Mesir. Konflik ini tidak hanya menghasilkan pembentukan negara Israel yang kontroversial, tetapi juga menciptakan kondisi yang sulit bagi populasi Palestina. Puluhan ribu orang Palestina menjadi pengungsi sebagai akibat langsung dari perang ini, menciptakan masalah kemanusiaan yang kompleks dan berkepanjangan.

 

Kondisi Palestina hari ini

Global telah banyak menyaksikan bahwa kejahatan dewasa ini telah tersistematis bahkan seolah-olah telah dilegalkan oleh dunia. Tak sedikit nyawa tak bersalah harus dikorbankan, tercatat bahwa 31 ribu lebih warga meninggal dan 72 ribu lebih terluka parah di Gaza yang dalam hal ini 72% korban merupakan anak-anak dan perempuan yang kita ketahui bersama bahwa itu anak-anak dan perempuan termasuk non-kombatan (tidak boleh diperangi). Hal itu bukan hanya membicarakan berapa banyaknya angka tentang korban tetapi tentang betapa berharganya hak hidup sebagai seorang makhluk hidup, dan yang paling membuat miris masih banyak negara tutup mata akan perbuatan keji yang dilakukan oleh Israel.

 

Meskipun demikian, tidak sedikit masyarakat transnasional yang banyak berempati bahkan semakin menguatkan suaranya dalam membela Palestina dan berusaha menghentikan genosida yang berlangsung. Hal ini menandakan bahwa Palestina masih banyak mendapatkan dukungan moral dan kemanusiaan dari semua kalangan masyarakat. Sekalipun mereka berasal dari negara yang secara resmi negara asalnya menyatakan dukungan atas Israel, misal seperti warga Amerika Serikat, tidak sedikit kalangan pelajar disana berdemonstrasi agar pemerintah memperhatikan Palestina dan mengutuk tindakan Israel, meskipun Pemerintah AS tidak menunjukkan sedikitpun dukungannya atas Palestina tetapi setidaknya AS memilih abstain dalam keputusan Dewan Keamanan PBB yang ditetapkan menjadi resolusi 2728 (2024).

 

Tidak berhenti di Amerika Serikat, bahkan di Uni Eropa pun tak kalah banyaknya dukungan di kalangan akademisi itu. Kelompok-kelompok ini sering mengadakan acara dan demonstrasi untuk meningkatkan kesadaran tentang masalah Palestina dan mengadvokasi hak-hak Palestina. Beberapa diantaranya

– Universitas Cambridge memiliki kelompok mahasiswa pro-Palestina yang sangat aktif yang disebut “Cambridge Palestine Solidarity.” Kelompok ini mengadakan berbagai acara, termasuk ceramah, pemutaran film, dan demonstrasi.

– Universitas Oxford memiliki kelompok mahasiswa pro-Palestina yang disebut “Oxford Palestine Society.”

– Universitas College London memiliki kelompok mahasiswa pro-Palestina yang disebut “UCL Friends of Palestine.

 

Itulah beberapa contoh dari Top universitas dunia. Terlebih di beberapa negara dengan mayoritas muslim. Tentu akan sangat dipertanyakan jika mengabaikan Palestina. Perlu dicatat juga bahwa pada tanggal 7 Mei 2024, 172 Universitas Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) di seluruh Indonesia serentak menggelar aksi solidaritas dan orasi untuk mendukung rakyat Palestina. Aksi ini merupakan bentuk kepedulian dan komitmen sivitas akademika PTMA terhadap kemanusiaan dan perdamaian dunia.

 

Terutama Indonesia sebagai negara yang memiliki komitmen kuat sejak awal kemerdekaan hingga saat ini dalam mendukung hak-hak Palestina. Pada bulan April 2024, Indonesia berhasil mengirimkan bantuan tahap kedua ke Gaza menggunakan pesawat Hercules TNI. Ada juga bantuan berupa obat-obatan, perlengkapan kesehatan dan kebutuhan lainnya. Tercatat bahwa pada bulan Maret 2024, Indonesia mengirimkan bantuan senilai Rp30 miliar untuk Palestina dan Sudan bahkan Pada bulan April 2024, Indonesia telah mengalokasikan Rp31,9 miliar atau setara USD 2 Juta melalui Lembaga Dana Kerja Sama Pembangunan Internasional (LDKPI).

 

Hal yang tak kalah menarik juga banyak selebriti dunia turut menyuarakan dukungan atas Palestina. Tidak sedikit aktris besar dunia yang tidak segan untuk membela Palestina dan hal ini menuai banyak pujian dan sebaliknya beberapa aktris yang bungkam atau mendukung Israel mendapatkan banyak kritikan, terutama adanya isu cancel culture merujuk pada praktik memboikot atau menarik dukungan dari seseorang karena pernyataan atau tindakan mereka yang dianggap ofensif atau kontroversial.

 

Oleh karena itu, tulisan ini ingin menyampaikan bahwa sekeras dan sesering apapun penyerangan yang dilakukan Israel dan sekutunya atas Palestina tetapi dunia tidak akan berhenti untuk memberikan dukungan secara moral dan masif membela Palestina, meskipun hanya dengan tindakan sederhana tetapi ini akan memberikan setidaknya implikasi yang bertahap karena masalah ini menyangkut kemanusiaan dan hal ini bahkan memunculkan statement bahwa seseorang yang menutup mata mengenai isu Palestiana berarti dia tidak lagi bisa dikatakan sebagai manusia yang memiliki nurani dan empati.

 

Referensi

Al-Jazeera. (2016). A century on: Why arabs resent sykes-picot. A century on: Why Arabs resent Sykes-Picot; Al-Jazeera. https://interactive.aljazeera.com/aje/2016/sykes-picot-100-years-middle-east-map/index.html

Onion, A., Sullivan, M., Mullen, M., & Zapata, C. (2019). Britain and france conclude sykes-picot agreement. HISTORY; A&E Television Networks. https://www.history.com/this-day-in-history/britain-and-france-conclude-sykes-picot-agreement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here