
NUSAKATA.COM – Ada apa dengan Manajemen Pendidikan Islam?
Instansi pendidikan sudah semestinya dapat merubah apapun yang ada pada peserta didiknya menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta bertanggung jawab.
Dalam hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) pada esensi tujuan pendidikan itu sendiri adalah “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
Hal ini perlu difikirkan dan dirancang sedemikian rupa serta diaplikasikan secara tepat dan berkelanjutan sebagai wujud keseriusan dalam mendidik dan mencetak generasi penerus yang mumpuni disetiap aspek terutama sesuai dengan kejuruan dan keahliannya tanpa terkecuali oleh setiap lembaga pendidikan salah satunya adalah Universitas Pamulang.
Program demi program terus digulirkan dalam mewujudkan dan meningkatkan kualitas pendidikan terutama mencetak alumni yang mumpuni sesuai dengan jurusan dalam kiprah persaingan didunia luar.
Kali ini program studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Universitas Pamulang melalui program terbarunya sekaligus mempersiapkan generasi yang mampu membawa sebuah perubahan kedepannya dimana hal ini merupakan menjadi salah satu bentuk tanggung jawab dari lembaga pendidikan terkhususnya perguruan tinggi.
Persiapan sekaligus pembekalan berbagai kompetensi pada mahasiswa dalam bentuk hard skill (keterampilan) dan soft skill (pengetahuan), serta tanpa kecuali termasuk pada life skill. Untuk mewujudkan hal tersebut Manajemen Pendidikan Islam (MPI) UNPAM mempersiapkan mahasiswa dengan kompetensi kepemimpinan melalui microleading. Sebuah program yang dilakukan melalui implementasi mata kuliah microleading dan penyediaan prasarana laboratorium microleading.
Apa yang dilakukan Manajemen Pendidikan Islam?
Untuk mewujudkan hal tersebut tentu seyogyanya instansi pendidikan dimana hal ini yang menjadi ujung tombak perguruan tinggi adalah program studi, setiap program studi harus selaras dengan visi misi universitasnya dan mampu mewujudkan melalui program-program terbaiknya yang semuanya dapat diaplikasikan melalui proses pembelajaran baik dikelas maupun diluar kelas. Artinya, semua kegiatan yang dapat mendukung terciptanya tujuan dalam mencetak mahasiswa yang mumpuni dapat diterapkan dan diaplikasikan secara tepat dan berkelanjutan melalui organisasi internal maupuan melalui proses belajar didalam kelas.
Proses pembelajaran secara rutin disampaikan pastinya melalui setiap matakuliah yang sudah diterapkan disetiap program studi, dan disetiap matakuliah tentunya memiliki perbedaan baik dalam penyampaian proses terutama adalah luaran (out put) yang dihasilkan oleh mahasiswa.
Dalam hal ini yang diterapkan oleh program studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) UNPAM adalah memberikan penekanan lebih pada mahasiswa dalam tanggung jawab intelektual, tanggung jawab sosial, dan tanggung jawab moral. Pada tanggung jawab intelektual merupakan pengembangan kemampuan antara teoritis dan empiris. Artinya mahasiswa memiliki kemampuan elabolasi diantaranya pertama, penilaian keyakinan yaitu dengan mencari bukti, mempertimbangkan argument alternatif untuk mencari kebenaran ilmu pengetahuan. Kedua, kewajiban mencari informasi, yaitu membaca, mendengar dan belajar dari berbagai sumber pandangan yang berbeda. Ketiga, kritik pemikiran sendiri, untuk melihat kelemahan dan bias dalam pemikiran kita. Keempat, bertindak berdasarkan pengetahuan, yaitu bersedia untuk mengubah perilaku jika pengetahuan baru menunjukkan perilaku kita salah dan kurang efektif. Tanggung jawab intelektual sebagai pola pikir mahasiswa, yang dituntut untuk berpikir kreatif, imajinatif dan lebih memperhatikan kehidupan sosial masyarakat disekitarnya.
Mahasiswa merupakan bagian dari Masyarakat yang ditunggu kiprah dan sumbangsihnya, hal ini tentu mahasiswa memiliki tanggung jawab sosial. Yaitu memiliki peran perubahan pengembangan pada tatanan masyarakat untuk menuju perubahan yang lebih baik. Sedangkan tanggung jawab moral, mahasiswa mengontrol perubahan baik yang sedang atau prediksi ke depan. Dalam hal ini, mahasiswa berlatih terkait komunikasi, berpikir kritis, analisis masalah, pemecahan masalah, negosiasi dan lainnya. Tongkat estafet pembangunan harus kita sampaikan melalui pelatihan atau melatih mereka dalam kiprah pada organisasi intra dan ekstra kampus dimana tempat mereka menimba ilmu pengetahuan.
Sentuhan dalam pembentukan pola pikir dan tindakan mahasiswa pun harusnya tak luput dalam pantauan, karena pola pikir merupakan awal dalam bertinda, bersikap, berkomunikasi dan yang lainnya. Hal ini tentunya dapat dibentuk melalui Pendidikan dan pelatihan kepemimpinan dan manajemen diri. Pembekalan tersebut dapat disampaikan dengan berbagai macam cara salah satunya melalui mata kuliah microleading.
Sesuai dengan namanya microleading, tentu harusnya dan sudah semestinya mahasiswa mendapatkan pembekalan mengenai kepemimpinan, bagaimana menghadapi masalah, menggali akar masalah, menyelesaikan masalah, berpikir analys kritis hingga pengambilan keputusan baike secara teori maupun praktek yang dapat diaplikasikan melalui tugas atau sejenisnya termasuk dalam pembentukkan karakter kepemimpinan dengan personal branding yang harus mereka bangun sedari mahasiswa untuk persiapan karier ke depan.
Manajemen Pendidikan Islam pasti bisa
Sebagaimana yang sudah kita ketahui, dalam prodi manajemen Pendidikan Islam (MPI) terdapat ruang lingkup yang menjadi skala proiritas yaitu pertama, ruang lingkup wilayah kerja yang berkaitan dengan penataan kegiatan pendidikan. Diantaranya manajemen Pendidikan makro (level nasional), manajemen Pendidikan messo (level wilayah), manajemen Pendidikan micro (level lokal/ institusi). Sedangkan pada ruang lingkup objek garapan manajemen Pendidikan terbagi menjadi 8 (delapan) antara lain manajemen peserta didik, manajemen personil sekolah (baik tenaga kependidikan maupun tenaga manajemen), manajemen kurikulum, manajemen sarana atau material, manajemen tatalaksana pendidikan, manajemen pembiayaan, manajemen lembaga-lembaga pendidikan dan organisasi pendidikan, manajemen hubungan masyarakat atau komunikasi pendidikan.
Untuk mewujudkan semua bidang tersebut tentu tidaklah mudah, untuk itu perlu adanya konsentrasi penuh untuk mewujudkannya, mulai dari persiapan, perancangan, pelaksanaan, sampai dengan tingakat evaluasi hasilnya. Salain itu tentu diperlukannya suatu sarana yang tepat supaya matakuliah mampu menggapai atau menyentuh para mahasiswanya.
Suatu kebijakan yang sangat bagus/tepat pada program studi ini yang sudah menyediakan laboratorium microleading sebagai serangkaian pedoman yang dirancang untuk pencapaian kualitas dan integritas pada tahap yang mencakup prosedur kompetensi kepemimpinan bagi mahasiswa prodi manajemen Pendidikan Islam (MPI) Universitas Pamulang. Microleading merupakan praktik dasar manajerial dan pengelolaan lembaga pendidikan dan kegiatan administrasi tata usaha perkantoran dalam lembaga pendidikan dalam ruang lingkup kecil, tanpa melibatkan lembaga pendidikan formal. Dapat diartikan bahwa microleading sebagai praktek micro profesi dalam ruang praktek laboratorium manajemen Pendidikan Islam.
Microleading yang dipersiapakan dan diterapakan pada Manajemen Pendidikan Islam (MPI) UNPAM digunakan untuk mempertemukan antara teori dan praktek manajemen dan pelayanan administrasi perkantoran pada mahasiswa sebagai calon manajer dan administrator Lembaga Pendidikan. Baik dalam bidang pengelolaan guru, pegawai, tenaga perpustakan, laboratorium, kurikulum, kesiswaan, hubungan masyarakat (Humas), sarana dan prasarana pendidikan, bimbingan konseling pendidikan. Hal tersebut sesuai dengan tujuan adanya microleading yaitu untuk membekali dan / atau meningkatkan performance (kinerja) calon tenaga manajemen dan administrasi pendidikan melalui pelatihan ketrampilan mengelola lembaga pendidikan.
Praktik microleading sebagai salah satu penunjang pengalaman lapangan dalam pelatihan terbatas mengenai ketrampilan-ketrampilan tertentu. Mahasiswa diajak mempraktekkan langsung dalam identifikasi masalah, menentukan skala prioritas masalah, selanjutnya menganalisis masalah untuk menemukan akar sebab akibat dan memunculkan ragam alternatif solusi setelah melalui telaah secara tepat dan seksama dari berbagai sudut pandang, dan selanjutnya menimbang ragam alternatif solusi untuk memilih solusi yang dirasa tepat, efektif dan efisien dalam penyelesaian masalah tersebut.
Jika sarana laboratorium microleading dapat diperuntukan dengan baik dan tepat serta pendidik atau dosen yang mumpuni yang mampu mentransfer pengetahuannya dengan efektif didukung dengan peserta didik yang memiliki semangat belajar yang tinggi maka bisa dipastikan tujuan dari program studi manajemen islam selaku pelaksana akan tercapai dan menjadi prodi terbaik dalam universitas tersebut.
By: Dr. Amaliyah, S.Ag., M.A., MCE., MOS., MCF.







