Nusanews.co – Ada Beberapa hal tentang manusia mencari Ilmu selama proses belajar, serta tujuan dari ilmu itu berbeda – beda cara menggunakannya.
Diataranya yaitu Pertama : Seseorang yang menuntut ilmu untuk dijadikan bekal akhirat dimana ia hanya ingin mengharap ridha Allah dan negeri akhirat. Ini termasuk kelompok yang beruntung.
Kedua : Seseorang yang menuntut ilmu untuk dimanfaatkan dalam kehidupannya di dunia sehingga ia bisa memperoleh kemuliaan, kedudukan, dan harta.
Ia tahu dan sadar bahwa keadaannya lemah dan niatnya hina. Orang ini termasuk ke dalam kelompok berisiko. Jika ajalnya tiba sebelum sempat bertobat, yang dikhawatirkan adalah penghabisan yang buruk (su’ul-khatimah) dan keadaannya menjadi berbahaya.
Tapi jika ia sempat bertobat sebelum ajal tiba, lalu berilmu dan beramal serta menutupi kekurangan yang ada, maka ia termasuk orang yang beruntung.
Ketiga : Seseorang yang menuntut ilmu sebagai sarana untuk memperbanyak harta, serta untuk berbangga dengan kedudukannya dan menyombongkan diri dengan besarnya jumlah pengikutnya.
Ilmunya menjadi tumpuan untuk meraih sasaran duniawi. Ia terperdaya oleh setan. Ia mengira bahwa dirinya mempunyai posisi khusus kepada Allah karena ciri-ciri, pakaian, dan kepandaian berbicaranya layaknya ulama, padahal ia begitu tamak kepada dunia.
Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa tipe ketiga ini termasuk golongan yang binasa, dungu, dan tertipu. Ia tak bisa diharapkan bertobat karena ia tetap beranggapan dirinya termasuk orang baik.
Ia lalai dari firman Allah SWT, yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa-apa yang tak kalian lakukan?” (QS Ash-Shaff: 2).
Karena itu, jadilah golongan yang pertama. Waspadalah agar tidak menjadi golongan kedua karena betapa banyak orang yang menunda-nunda, ternyata ajalnya tiba sebelum bertaubat.
Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali mengatakan, celakalah orang bodoh karena ia tidak belajar. Tapi celaka seribu kali bagi orang alim yang tak mengamalkan ilmunya.
Sumber : Kajian Dan Sejarah Islam







