NUSAKATA.COM – Mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Universitas Samawa (UNSA) Kelompok 2 Desa Jurumapin melaksanakan praktik pembuatan pestisida nabati berbahan dasar ekstrak daun mimba sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat, Selasa (30/6). khususnya para petani, mengenai alternatif pengendalian hama yang ramah lingkungan, mudah dibuat, dan ekonomis.
Kegiatan yang dipimpin oleh Ketua Kelompok KKL, Alfin Rizaldi, tersebut mendapat antusias dari para anggota Kelompok Tani Agrotamase. Dalam kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mempraktikkan proses pembuatan pestisida nabati, tetapi juga memberikan penjelasan mengenai manfaat, cara penggunaan, serta keunggulannya dibandingkan pestisida kimia.
Pembuatan pestisida nabati dilakukan menggunakan bahan sederhana, yakni 500 gram daun mimba segar, 3–4 liter air bersih, dan 1–2 sendok teh sabun pencuci piring (Sunlight) yang berfungsi sebagai perekat agar larutan menempel lebih lama pada permukaan daun. Daun mimba dicacah, kemudian dihaluskan menggunakan blender atau ditumbuk hingga menjadi bubur. Selanjutnya, campuran disaring untuk diambil ekstraknya dan direndam selama 12–24 jam di dalam wadah tertutup. Setelah proses perendaman selesai, larutan ditambahkan Sunlight, diaduk hingga merata, dan siap diaplikasikan menggunakan alat semprot
Ketua Kelompok KKL Desa Jurumapin, Alfin Rizaldi, mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan memberikan pengetahuan kepada petani mengenai pemanfaatan bahan alami yang tersedia di sekitar lingkungan sebagai solusi pengendalian hama tanaman.
“Kami ingin memperkenalkan kepada masyarakat bahwa daun mimba memiliki manfaat besar sebagai pestisida nabati. Selain mudah diperoleh dan biaya pembuatannya murah, pestisida ini juga lebih aman bagi lingkungan serta dapat membantu mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida kimia,” ujarnya.
Dalam pengaplikasiannya, larutan pestisida disemprotkan secara merata ke seluruh bagian tanaman, terutama pada bagian bawah daun yang menjadi tempat persembunyian hama. Penyemprotan dianjurkan dilakukan pada sore hari setelah pukul 16.00 WITA untuk menjaga efektivitas senyawa aktif yang terkandung di dalam daun mimba. Untuk pencegahan dilakukan satu kali dalam seminggu, sedangkan saat serangan hama meningkat dapat dilakukan dua kali dalam seminggu.
Ketua Kelompok Tani Agrotamase, Alimudin, mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa KKL Universitas Samawa. Menurutnya, pelatihan tersebut memberikan wawasan baru kepada petani dalam memanfaatkan bahan-bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar sebagai alternatif pengendalian hama.
“Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat bagi kami. Selama ini petani lebih banyak bergantung pada pestisida kimia, padahal daun mimba yang mudah ditemukan ternyata dapat dimanfaatkan sebagai pestisida alami. Kami berharap ilmu yang diberikan mahasiswa KKL dapat diterapkan oleh anggota kelompok tani sehingga biaya produksi dapat ditekan dan hasil pertanian tetap terjaga,” kata Alimudin.
Daun mimba diketahui mengandung senyawa aktif azadirachtin yang efektif mengusir berbagai jenis hama seperti ulat, kutu, dan belalang. Senyawa tersebut juga mampu menghambat siklus hidup hama, menekan perkembangan jamur pada tanaman, serta tidak meninggalkan residu berbahaya pada hasil panen. Selain ramah lingkungan dan mudah terurai di alam, pestisida nabati dari daun mimba juga dinilai lebih ekonomis karena memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar masyarakat.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKL Universitas Samawa berharap masyarakat Desa Jurumapin semakin memahami pentingnya penerapan pertanian yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan sumber daya lokal sebagai solusi pengendalian hama yang efektif, aman, dan berkelanjutan.








