Menu

Mode Gelap
 

Presiden Mahasiswa IAIN Langsa Pertanyakan Urgensi Penambahan 4 Batalyon Teritorial di Aceh

- Nusakata

20 Jun 2025 07:01 WIB


					Presiden Mahasiswa IAIN Langsa Pertanyakan Urgensi Penambahan 4 Batalyon Teritorial di Aceh (Ist) Perbesar

Presiden Mahasiswa IAIN Langsa Pertanyakan Urgensi Penambahan 4 Batalyon Teritorial di Aceh (Ist)

NUSAKATA.COMRencana pembangunan empat Batalyon Teritorial Pembangunan (YTP) baru di wilayah Kodam Iskandar Muda menuai sorotan tajam dari kalangan Mahasiswa. Salah satu suara kritis datang dari Presiden Mahasiswa IAIN Langsa, Ahmad Subastian Tarigan , yang menganggap urgensi penambahan satuan militer tersebut. (19/6/2025).

Dalam pernyataan resminya, Ahmad menilai bahwa langkah militeristik ini justru menimbulkan keresahan dan kegelisahan, khususnya bagi masyarakat dan pelajar Aceh yang masih menyimpan trauma masa konflik bersenjata masa lalu.

Urgensinya seperti apa hingga harus membentuk empat batalyon baru? Rencana ini bisa mencederai perasaan masyarakat Aceh, yang telah berkomitmen membangun perdamaian melalui MoU Helsinki 2005,” ujar Ahmad Subastian.

Rencana penambahan empat batalyon itu mencakup wilayah Pidie, Nagan Raya, Aceh Tengah, dan Aceh Singkil . Pihak TNI menyebutkan bahwa tujuan pembangunan tersebut adalah untuk memperkuat pertahanan wilayah dan mendekatkan diri dengan rakyat.

Namun bagi Ahmad dan kalangan pelajar lainnya, pendekatan tersebut dinilai tidak tepat.

“Kami menegaskan bahwa perdamaian tidak boleh dikorbankan atas nama pembangunan , apalagi jika dilandasi pendekatan militer. Aceh tidak kekurangan akademisi, ahli pembangunan, atau pemuda-pemuda yang berpotensi memajukan pertanian, peternakan, dan infrastruktur sipil,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa Aceh saat ini bukan wilayah konflik , dan pembangunan berbasis militer seharusnya tidak menjadi prioritas.

“Yang lebih mendesak adalah pembangunan lapangan kerja, akses pendidikan yang merata, dan pelayanan kesehatan yang layak . Bukan menambah pasukan militer,” ujarnya.

Ahmad juga menegaskan bahwa mahasiswa tidak mengisyaratkan anti-TNI, namun menolak kebijakan yang dinilai melanggar semangat perdamaian yang telah diperjuangkan oleh rakyat Aceh.

“Kami tidak anti TNI. Tapi kami anti pada kebijakan yang mengancam komitmen perdamaian . Kami tidak ingin sejarah kekerasan dan konflik bersenjata kembali terulang karena gagalnya elite politik menjaga isi dan semangat MoU Helsinki,” tutupnya.

Baca Lainnya

Aktivis Soroti Dugaan Anggaran Pemeliharaan SDN 3 Keusik Tahun 2025

3 February 2026 - 12:10 WIB

Wakil Bupati Lahat Sambangi Korban Rumah Roboh Akibat Angin Kencang

31 January 2026 - 23:52 WIB

Fasilitas Air Di Ruang Rawat Inap RSUD Malingping Terganggu, Pasien Keluhkan Kendala Sanitasi

31 January 2026 - 16:01 WIB

Pemkab Lahat Melalui BKPSDM Kab. Lahat Menerima Penghargaan Dari Gubernur Sumatera Selatan

30 January 2026 - 19:06 WIB

Menerima Penghargaan Sebagai Pemerintah Daerah Dengan Implementasi 100% SIPD RI Online 

30 January 2026 - 14:19 WIB

Fakultas Hukum Universitas Samawa Buka Penerimaan Mahasiswa Baru 2026/2027

29 January 2026 - 20:25 WIB

Trending di Daerah