Menu

Mode Gelap
 

Pandeglang sebagai Ruang Belajar, Rantau yang Membentuk Kesadaran, Relasi, dan Karakter Mahasiswa Maluku

- Nusakata

3 Jan 2026 19:58 WIB


					Anak Maluku Merantau Ke Pandeglang. (Ist) Perbesar

Anak Maluku Merantau Ke Pandeglang. (Ist)

NUSAKATA.COM – Saya, Ibon Tarmon, berasal dari Desa Tumalehu Barat, Kecamatan Kepulauan Manipa, Maluku. Pada tahun 2021, saya memutuskan merantau ke Kota Pandeglang untuk melanjutkan pendidikan di STKIP Syekh Manshur. Keputusan itu bukan sekadar perpindahan geografis, tetapi juga awal dari proses pembentukan diri yang panjang.

Pandeglang menghadirkan pengalaman yang berbeda dari kampung halaman. Di kota ini, saya berjumpa dengan banyak orang dari latar belakang yang beragam, orang-orang yang sebelumnya tidak pernah saya temui, namun justru menjadi bagian penting dalam perjalanan saya.

Dari perjumpaan-perjumpaan itu, saya belajar bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga di ruang sosial, dalam dialog, perbedaan, dan kebersamaan.

Selama tinggal bersama paman di Cipacung, saya mulai memahami makna hidup di tanah rantau. Hidup mandiri, beradaptasi dengan budaya baru, serta belajar bertanggung jawab atas pilihan sendiri menjadi pelajaran yang tidak tertulis, tetapi sangat menentukan. Rantau mengajarkan saya untuk lebih peka, sabar, dan terbuka terhadap perubahan.

Lingkungan kampus STKIP Syekh Manshur serta keterlibatan saya dalam berbagai organisasi—UKM TIKOM, pers mahasiswa di Banten dan luar Banten, hingga PMII—menjadi ruang dialektika yang membentuk cara berpikir saya.

Di sana, saya belajar berpikir kritis, memecahkan persoalan secara rasional, serta membangun sikap toleran dalam menghadapi perbedaan pandangan. Proses ini memperluas cara pandang saya terhadap realitas sosial dan peran mahasiswa di tengah masyarakat.

Pertemuan saya dengan para jurnalis senior di Pandeglang juga menjadi bagian penting dari perjalanan ini. Dari mereka, saya belajar tentang integritas, konsistensi, dan keberanian dalam menyuarakan kebenaran. Relasi yang terbangun tidak lagi sekadar profesional, tetapi telah tumbuh menjadi ikatan kekeluargaan yang memperkaya pengalaman hidup saya.

Pandeglang, bagi saya, bukan hanya kota tempat menuntut ilmu. Ia adalah ruang belajar yang membentuk kesadaran, karakter, dan cara berpikir. Banyak nilai yang saya peroleh di sini—nilai tentang kemanusiaan, kebersamaan, dan tanggung jawab intelektual. Semua itu akan saya bawa sebagai bekal dalam melanjutkan perjalanan hidup, ke mana pun langkah ini akan bermuara.

Baca Lainnya

SK 103 Desa Depur: Dugaan Penyalahgunaan Wewenang dan Ancaman bagi Demokrasi Lokal

17 February 2026 - 20:43 WIB

Kajian Akademisi Soroti Lemahnya Daya Ikat Inbup Ritel Sumbawa, Berpotensi Bertentangan dengan Perda

29 January 2026 - 12:53 WIB

Negara Kehilangan Nurani: Nakes dan Guru Terpinggirkan oleh Kebijakan Instan

23 January 2026 - 20:51 WIB

Krisis Ekologi Pesisir Jawa Tengah: Perspektif Keadilan Sosial Dan Ekonomi Masyarakat

15 January 2026 - 12:04 WIB

Aktivis Aditia Nilai TPP Ada Hal Konyol

8 January 2026 - 10:35 WIB

Pemerhati Nilai Kepemimpinan Dewi-Iing Hadirkan Pelayanan Publik Yang Berorintasi Kebutuhan Warga

29 December 2025 - 17:04 WIB

Trending di Opini