Menu

Mode Gelap
 

Gelar Melasti, 1400 Umat Hindu Padati Pantai Ngobaran Gunung Kidul

- Nusakata

14 Mar 2025 16:43 WIB


					Gelar Melasti Umat Hindu (dok/Ist) Perbesar

Gelar Melasti Umat Hindu (dok/Ist)

NUSAKATA.COM – Sekitar 1.400 umat Hindu menggelar upacara Melasti di Pantai Ngobaran, Kelurahan Kanigoro, Saptosari, Gunung Kidul, pada Jumat (14/03/2025). Bertepatan dengan hari Purnama sasih Kesanga.

Ketua Panitia Hari Raya Nyepi Kabupaten Gunungkidul, Purwanto, menyampaikan bahwa Pura Segoro Wukir di pinggir Pantai Ngobaran menjadi salah satu destinasi penting bagi umat Hindu di Yogyakarta.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Gunungkidul ini juga menekankan bahwa masih banyak pembangunan yang harus diselesaikan di kawasan tersebut, termasuk pembangunan candi serta peningkatan akses jalan menuju Pura.

“Kami laporkan kepada Bapak Wakil Bupati bahwa akses jalan ini kami masih sangat perlu tingkatkan guna menunjang kelancaran umat dalam beribadah. Hari ini, ada sekitar 1.400 umat yang mengikuti upacara Melasti, seperti yang Bapak saksikan, tempatnya meluber dan tidak muat pak,” katanya.

Dalam kesempatan ini, Wakil Bupati Gunungkidul, Joko Parwoto, mengajak umat untuk berperan dalam pelestarian lingkungan.

Ia juga mengucapkan selamat kepada seluruh umat yang merayakan dan berharap rangkaian peringatan Hari Raya Nyepi dapat berjalan dengan aman dan lancar.

“Keseimbangan alam, termasuk tanah, udara, dan air, menjadi salah satu pesan utama dalam perayaan Melasti. Jadi, kelestarian lingkungan harus dijaga untuk meningkatkan kualitas hidup,” kata Joko.

 

Momentum Untuk Memperkuat Hidup Toleran

Joko Parwoto pun menekankan bahwa semangat kebersamaan dan toleransi antarumat beragama harus semakin diperkuat untuk menjaga harmoni kehidupan di Bumi Handayani.

“Persatuan dan kesatuan di Gunungkidul harus terus dijaga dan dikuatkan,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur Pendidikan Agama Hindu, Kementerian Agama Republik Indonesia, Trimo, menjelaskan bahwa upacara Melasti bertujuan untuk menyucikan alam sebelum umat menyucikan diri sendiri dalam menyambut Hari Raya Nyepi.

“Hari Raya Nyepi di Pulau Jawa memiliki makna yang sangat sakral. Di momen ini, umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian,” ujarnya.

Trimo pun merinci bahwa Catur Brata Penyepian terdiri dari empat hal: tidak menyalakan api (amati geni), tidak bekerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), dan tidak mencari hiburan (amati lelanguan).

“Melalui perayaan Nyepi, kita diingatkan akan pentingnya hidup berdampingan dalam harmoni, baik antarumat Hindu, antarumat beragama, maupun antara umat beragama dengan pemerintah,” pungkasnya.

Acara Melasti dalam rangkaian Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1947 di Pantai Ngobaran juga dihadiri oleh Kakanwil Kementerian Agama Provinsi DIY, Kapolres Gunungkidul, serta para tokoh agama dan masyarakat setempat. (Dewa).

Baca Lainnya

Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam STAI Babunnajah Gelar Do’a Bersama Sambut Tahun

1 January 2026 - 09:34 WIB

Bakrie Amanah Salurkan Bantuan Kemanusiaan Tahap II ke Aceh Tengah, Pidie Jaya, dan Bener Meriah

29 December 2025 - 18:51 WIB

Mahasiswa PKN STAIKHA Gelar Peringatan Isra Mi’raj Bersama 100 Anak Yatim Dan Duafa

29 December 2025 - 16:49 WIB

Gebyar Amal Untuk Aceh Dan Pentas Seni Berlangsung Meriah, Terkumpul Donasi Rp10,7 Juta

28 December 2025 - 18:25 WIB

Menguatkan Akar Budaya: Dana Indonesiana Perkokoh Forum Seniman Tradisi Banten

22 December 2025 - 11:50 WIB

Jumlah Anak Tidak Sekolah Di Kabupaten Pandeglang Capai Dua Ribu

14 December 2025 - 23:03 WIB

Trending di Nasional