NUSAKATA.COM – Desa Mapin Kebak, Kecamatan Alas Barat, Kabupaten Sumbawa, NTB, memiliki kondisi agroklimat tropis kering–lembap dengan suhu rata-rata tahunan sekitar 21–33°C yang mendukung komoditas hortikultura, termasuk semangka (Citrullus lanatus).
Penelitian ini memotret praktik budidaya semangka non biji oleh Pak Zainal yang memulai usahanya sejak akhir 2022. Metode yang digunakan meliputi wawancara semi-terstruktur dan studi pustaka terkait agroklimat lokal serta teknis khusus semangka triploid (kebutuhan penyerbuk diploid dan penyerbukan buatan).
Hasil menunjukkan: (1) kesesuaian lahan dan iklim setempat mendukung pembentukan rasa manis dan ukuran buah yang baik; (2) keberhasilan budidaya semangka non biji sangat dipengaruhi manajemen polinator (tanaman berbiji), penyerbukan buatan pagi hari, serta pemeliharaan kelembapan melalui mulsa dan irigasi; (3) tantangan utama berupa ketersediaan benih triploid, hama-penyakit, serta disiplin jadwal polinasi. Studi ini merekomendasikan peningkatan kapasitas petani melalui SOP polinasi, pengelolaan air di musim kering, dan penguatan akses benih serta pasar.
Kata kunci: semangka non biji, triploid, Mapin Kebak, Alas Barat, Sumbawa, penyerbukan buatan
Pendahuluan
Desa Mapin Kebak merupakan salah satu desa di Kecamatan Alas Barat, Kabupaten Sumbawa, NTB; mata pencaharian warganya didominasi sektor pertanian.
Wilayah Sumbawa beriklim panas sepanjang tahun, dengan kisaran suhu umum 21–33°C, dan mengalami variasi musiman hujan, kemarau dan kondisi yang historis cocok untuk semangka yang toleran kering asalkan air tersedia saat fase kritis.
Semangka non biji (triploid) secara biologis dihasilkan dari persilangan tetua tetraploid × diploid, buahnya umumnya tanpa biji penuh sehingga lebih disukai konsumen. Namun, karena serbuk sarinya steril, tanaman wajib didampingi polinator (semangka berbiji) dan lazim memerlukan penyerbukan buatan agar hasil optimal
Metodologi
Rancangan: studi kasus kualitatif.
Sumber data:
Wawancara semi-terstruktur dengan Pak Zainal (Agustus 2025) mengenai riwayat tanam, varietas, teknis budidaya, hama-penyakit, dan pemasaran.
Observasi ringan
Data sekunder: profil lokasi Mapin Kebak kecamatan Alas Barat, iklim di Sumbawa, dan pedoman budidaya semangka non biji.
Hasil dan Pembahasan
Kondisi Lokasi dan Kesesuaian Agroklimat
Mapin Kebak berada di Alas Barat, Sumbawa—wilayah pesisir-pedalaman dengan musim kemarau yang nyata. Suhu tahunan 21–33 °C mendukung pertumbuhan semangka; manisnya buah terbentuk baik pada intensitas penyinaran tinggi dan cekaman air ringan yang terkontrol. Data hujan BPS Alas Barat menunjukkan pola hari hujan curah hujan musiman artinya strategi tanam perlu menyesuaikan kalender hujan setempat.
Implikasi teknis: tanam awal tengah kemarau dengan irigasi teratur untuk meminimalkan busuk akar atau daun saat puncak hujan gunakan mulsa plastik untuk menekan gulma, menjaga kelembapan, dan kebersihan buah praktik umum pada semangka non biji.
Sistem Budidaya Pak Zainal (Ringkasan Wawancara)
Awal usaha: akhir 2022, memulai dengan luasan kecil; berlanjut karena respons pasar terhadap semangka non biji yang manis.
Persiapan lahan: bedengan, pemupukan dasar, pemasangan mulsa; jarak tanam disesuaikan agar sirkulasi udara baik. (sesuai pedoman budidaya).
Benih & Varietas: menggunakan benih triploid (non biji) ; ketersediaan benih berkualitas menjadi tantangan
Polinator: menanam barisan semangka diploid (berbiji) sebagai penyerbuk alami dan sebagai penarik serangga.
Penyerbukan: melakukan penyerbukan buatan pada pagi hari saat bunga mekar (±06.00–09.00), pada umur ± 24–35 HST, untuk memperoleh bentuk dan ukuran buah yang seragam.
Pemeliharaan: pemangkasan sulur terpilih, pemupukan berimbang NPK + organik, pengendalian hama (ulat grayak, kutu) dan penyakit (embun tepung, busuk buah) secara preventif.
Panen & mutu: panen mengacu pada indikator usia buah dan tanda fisiologis (tendril mengering, warna field spot menguning). ia menyebut panen kisaran 60–70 HST tergantung varietas dan kondisi.
Kunci Keberhasilan: Manajemen Polinasi
Semangka non biji tidak mampu membuahi sendiri sehingga memerlukan tanaman polinator berbiji serta penyerbukan buatan untuk hasil optimal. Waktu polinasi berpengaruh nyata terhadap keberhasilan pembuahan dan mutu buah praktik terbaik dilakukan pada pagi hari saat anthesis. Hal ini konsisten dengan praktek lapang Pak Zainal.
Semangka non biji adalah triploid hasil memanfaatkan perubahan ploidi; kondisi ini menyebabkan sterilitas gamet dan mendorong pembentukan buah partenokarpi (tanpa biji penuh).
Tantangan Lokal dan Strategi
1. Benih triploid terbatas/mahal solusi: kemitraan pengadaan dengan distributor resmi; cek viabilitas benih sebelum semai.
2. Kelembapan ekstrem saat hujan manfaatkan mulsa, bedengan tinggi, drainase baik; atur kalender tanam.
3. Disiplin polinasi siapkan tim polinasi dan SOP jam kerja (06.00–09.00) selama puncak bunga mekar.
4. Hama/penyakit monitoring mingguan, sanitasi kebun, rotasi lahan, dan penggunaan pestisida sesuai ambang kendali (acuan pedoman hortikultura).
Potensi Pengembangan
Secara wilayah, NTB khususnya Sumbawa memiliki narasi berkembangnya komoditas semangka non biji dalam beberapa tahun terakhir, sehingga terdapat peluang klasterisasi produksi dan wisata petik buah skala lokal bila dukungan pasar dan infrastruktur memadai khusus wilayah mapin kebak kecamatan alas barat
Kesimpulan
Kisah Pak Zainal menunjukkan bahwa Mapin Kebak memiliki daya dukung lingkungan dan akses praktik budidaya yang memadai untuk semangka non biji. Faktor penentu keberhasilan adalah pemilihan benih triploid bermutu, keberadaan polinator diploid, penyerbukan buatan pagi hari, tata air mulsa, serta pengendalian OPT preventif. Intervensi yang disarankan meliputi: penyusunan SOP polinasi dan pelatihan penataan kalender tanam mengikuti pola hujan setempat penguatan akses benih dan jejaring pasar.
(Studi Kasus Pak Zainal Abidin)





