Nusanews.co – Di lahan subur sawah merunduk, Petani bertani dengan semangat yang kukuh. Namun takdir berkisar menguji keberanian, Ketika petaka datang memenuhi lahan.
Air yang meluap menggenangi sawah, Petani meratap harta yang tercurah. Pabrik besar mengepulkan asap hitam, Menggusur kehijauan merampas kedamaian.
Dahulu sawah melambai hijau, Padi menguning di bawah cahaya mentari. Petani bekerja dengan hati gembira, Namun sekarang air melanda dengan derita.
Petani terpukul merasa terpinggirkan, Lahan yang diwarisi kini tergenang air dan kotoran, Sawah menjadi kolam tanaman terendam, Harapan terhempas dalam gulungan gelombang.
Dulu sawah subur menjadi penopang kehidupan, Kini tergenang air tak ada tanda keberkahan.
Pabrik yang tamak meraih keuntungan, Tanpa memperdulikan petani yang kehilangan.
Petani mengadu suara mereka lemah terdengar, Di tengah gemuruh mesin tak ada yang memperdulikan, Mereka menjerit dalam keheningan malam, Memohon belas kasihan kepada yang berkuasa.
Namun harapan masih berkobar di dalam dada, Mereka bersatu menghadapi cobaan yang ada, Bersama-sama mereka bangun memperjuangkan haknya, Agar lahan kembali subur sawah terbebas dari malapetaka.
Pabrik harus sadar bahwa keberlangsungan hidup tidak hanya tentang keuntungan yang didapat. Tapi juga tentang keadilan bagi semua, Termasuk petani yang teguh berdiri di bumi ini.
Di lahan dan sawah petani mengajar, Arti kesabaran, keikhlasan, dan pengorbanan.
Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa, Yang pantang menyerah meski terus diuji oleh takdir yang keras.
Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaga keberlangsungan hidup yang adil, Agar lahan dan sawah tetap menjadi sumber kehidupan bagi petani dan generasi yang akan datang.
Penulis : Husen







