Home Hiburan Satuan – Satuan Perang Antara Perang Uhud Dan Ahzab

Satuan – Satuan Perang Antara Perang Uhud Dan Ahzab

3
0

Nusanews.co – Perang Badar yang Kedua Setelah orang – orang Muslim dapat membungkam dan menghentikan gangguan orang-orang Arab Badui, mereka mulai bersiap-siap untuk menghadapi musuh terbesar.

Setahun hampir berlalu, dan saat yang dijanjikan untuk bertempur dengan orang-orang Quraisy sewaktu Perang Uhud hampir tiba. Sudah seharusnya bagi Muhammad SAW dan rekan beliau untuk keluar menghadapi Abu Sufyan dan kaumnya. Mereka perlu memutar roda peperangan sekali lagi untuk menentukan mana pihak yang lebih layak hidup dan eksis.

Maka pada bulan Sya’ban 4 H atau Januari 626 M, Rasulullah SAW pergi pada hari yang telah dijanjikan bersama 1500 prajurit. Pasukan ini diperkuat dengan 10 orang penunggang kuda. Bendera ada di tangan Ali bin Abu Thalib. Madinah diwakilkan kepada Abdullah bin Rawahah. Mereka tiba di Badr dan menunggu orang-orang musyrik.

Sedangkan Abu Sufyan pergi bersama 2000 orang prajurit, yang diperkuat dengan 50 orang penunggang kuda. Mereka tiba di Zhahran sejauh satu marhalah dari Makkah dan bermalam di Majannah, pangkalan air di daerah itu.

Sebenarnya berat sekali bagi Abu Sufyan untuk keluar dari Makkah, karena dia memikirkan akibat peperangan dengan kaum Muslimin. Ketakutan selalu membayangi hatinya. Ketika dia singgah di Zhahran, nyalinya semakin menciut. Lalu dia mencari akal untuk kembali lagi ke Makkah.

Dia berkata kepada rekan-rekannya, “Wahai semua orang Quraisy, tidak ada yang lebih maslahat bagi kalian kecuali musim subur. Karena pada musim ini kalian dapat mengurusi tanaman dan bisa minum air susu. Padahal sekarang adalah musim paceklik. Aku lebih suka pulang. Maka lebih baik kalian juga pulang.”

Ternyata ketakutan juga membayangi hati prajurit-prajuritnya, maka mereka kembali lagi ke Makkah tanpa harus berperang dan tidak satu pendapat pun yang menentang pendapatnya.

Orang-orang Muslim menunggu kedatangan pasukan Quraisy di Badr hingga selama delapan hari. Selama itu mereka menjual barang-barang dagangan dan mendapat laba yang memadai. Kemudian mereka kembali lagi ke Madinah dengan membawa pamor yang harum dan keberadaan mereka disegani.

Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Perang Badr yang dijanjikan atau Perang Badr yang kedua, atau Perang Badr yang terakhir, atau Perang Badr Shughra.

 

Sumber : Sirah Nabawiyah ditulis oleh Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri Penerjemah Kathur Suhardi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here